Ardava.com


Home » , , , » Pengalaman Awak KMV Sinar Kudus Yang Disandera Perompak Somalia

Pengalaman Awak KMV Sinar Kudus Yang Disandera Perompak Somalia

Written By http://arsipardava.blogspot.com/ on Kamis, 02 Juni 2011



ABK KMV Sinar Kudus
Foto Bersama para ABK KMV Sinar Kudus yang di sandra oleh Lanun Somalia dengan Pasukan Khusus TNI yang andil dalam operasi Pembebasan KMV Sinar Kudus.(Gambar Lengkap)



“Manusia Sudah Tidak Ada Harganya“

Penyanderaan 20 ABK Kapal MV Sinar Kudus berakhir sudah. Bagaimana pengalaman mereka selama 46 hari disandera perompak Somalia. Berikut pengalaman Masbukhin (38), mualim I kapal kargo tersebut :

Rumah megah di lingkungan RT 1 RW 5 Desa Purwokerto, Kecamatan Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur, tampak sepi saat Nyata berkunjung ke sana, Kamis (12/5) siang. Seorang lelaki keluar dari ruang dalam saat mendengar pintu pagar diketuk.

Dia adalah Masbukhin, mualim I Kapal Sinar Kudus. Wajahnya ceria dan segar setelah berkumpul lagi dengan keluarganya di Kediri, Minggu (8/5) malam.

Sebelumnya lelaki berkumis ini menjadi sandera perompak Somalia selama 46 hari. Keselamatan jiwanya tak ada yang menjamin dan jauh dari keluarga. Namun berkat kerja keras dan doa, semuanya sudah berakhir.

Masbukhin dan 19 rekannya yang lain bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga tanpa luka sedikitpun. Tak ada yang bisa diucapkan oleh alumnus Univeristas Hang Tuah Surabaya tahun 1995 ini selain puji syukur.

”Ini mukjizat. Karena nasib kami tidak bisa ditentukan. Alhamdulillah kami selamat,” ungkap Masbukhin.

Tak hanya itu, bapak dua anak ini selalu sujud syukur begitu dirinya bebas menginjakkan kaki di daratan. Dari Syalala, Oman, tempat pertama dia menginjakkan kaki ke daratan, Jakarta, Surabaya dan Kediri, Masbukhin selalu sujud syukur.

Bagaimana tidak, selain menjadi sandera, Masbukhin ternyata menjadi tumpuan rekan-rekannya. Sebab Masbukhin menjadi juru bicara kelompoknya untuk berunding dengan para bajak laut itu. Di antara para awak kapal, Masbukhin yang fasih berbahasa Inggris.

Dibajak

Pengalaman dibajak oleh perompak ini merupakan kejadian pertamakali yang dialami Masbukhin selama 16 tahun menjadi pelaut. Sebelum berangkat menuju ke Rotterdam Belanda, Masbukhin sudah tak bersemangat untuk mengawaki Kapal MV Sinar Kudus. Namun pihak Samudera Indonesia menunjuk dirinya karena sudah punya pengalaman berlayar ke Belanda. Sedangkan kru lainnya masih sekali ini menuju ke Negeri Kincir Angin itu.

”Mau bagaimana lagi, namanya juga tugas,” kata Masbukhin yang pernah mengawaki Kapal MV Sinar Kudus pada 2009.

Kapal angkat sauh dari Pomalaa, Sulawesi Tenggara menuju Belanda pada 2 Desember 2010. Jalur yang dilalui : Singapura, Laut Hindia, dan terusan Suez. Begitu memasuki perairan Somalia pada 16 Maret lalu, kapal ini dibajak setidaknya oleh 30 perompak.

”Mereka muncul dengan dua speed boat. Begitu dekat dengan kami mereka sempat menembakkan RPG dan senapan. Tak bisa pasang kawat berduri beraliran listrik karena mereka cepat sekali bergeraknya,” jelas Masbukhin.

Perompak berhasil menaiki lambung kiri kapal setinggi delapan meter dengan mudah menggunakan tangga besi. Begitu naik mereka menggiring awak kapal dengan senjata siap meletus.

”Kru dikumpulkan dianjungan kecuali tiga orang yang ada di kamar mesin. Tapi mereka diawasi,” terang Masbukhin.

Ketika semuanya aman, perompak menaikkan peralatan perang mereka seperti RGP dan senapan mesin. Selain menakuti Masbukhin dan teman-temannya, para perompak juga berjaga-jaga agar mangsanya tak direbut kelompok bajak laut lainnya.

”Tiap hari mereka saling tembak untuk berebut kami. Kalau ada yang mati ya langsung dibuang ke laut. Manusia sudah tidak ada harganya,’’ ucap Masbukhin. “Kami ketakutan, jangan-jangan ada yang kena peluru nyasar dan mati,“ imbuh Masbukhin.

Setidaknya ada 30 perompak bersenjata lengkap yang naik dan menguras isi kapal. Dari makanan sampai celana dalam kru disikat habis. Mereka keras dan bergerak cepat mengacak-acak kamar.

“Daging sapi, ayam, kambing, makanan kaleng disikat semua kecuali mie instan dan telur. Mereka juga doyan baju dan celana dalam,“ kata Masbukhin.

Tapi setelah tahu Kapal MV Sinar Kudus dari Indonesia dan semua kru beragama Islam, para perompak ini berpikir lagi untuk melepaskannya. Tapi karena tak mendapat sasaran pengganti, mereka tetap menyandera kapal pengangkut biji nikel ini.

“Saya sempat berdebat dan minta dilepas. Tapi mereka tidak mau. Akhirnya mereka minta tebusan tiga juta dollar Amerika. Kami buat kesepakatan dan tanda tangan,” terang Masbukhin.

Masbukhin mengatakan ada tiga pimpinan perompak yang menguasaki MV Sinar Kudus. Mereka adalah Saleh, Salul dan Farah. Ketiga orang ini pun kurang kompak dalam urusan meminta tebusan.

Puasa

Seminggu pertama para awak kapal MV Sinar Kudus tidur di lantai anjungan tanpa alas apapun. Hari berikutnya perompak merasa kasihan juga dan memberikan tikar.

”Kami diawasi. Ke kamar mandi pun dikawal. Kalau kelamaan digedor,” aku Masbukhin.

Karena persediaan makanan terbatas, terpaksa Masbukhin dan awak lainnya puasa. Mereka makan satu kali dalam sehari. Itupun mie instant dan telur. Kalaupun menemukan kentang sebesar telur ayam, itu adalah sebuah rezeki. Sampai-sampai Slamet Juhari, kapten kapal jatuh sakit karena kurang makan dan stres.

“Kami hanya bisa berdoa dan sholat untuk minta keselataman,“ kata mantan Kapten Sinar Ambon ini.

Kesempatan untuk sholat berjamaah ini merupakan bentuk simpati para perompak karena sesama muslim. Setidak ada delapan perompak yang penjagaannya longgar.

“Karena kebaikan mereka akhirnya kami bisa menelepon ke keluarga masing-masing bahkan laporan langsung ke beberapa kantor berita di Indonesia,“ terang mantan karyawan PT Dharman Lautan dan Surya ini.

Namun begitu ketahuan anggota perompak lain yang tak bersahabat, kesempatan itu melayang. Apesnya lagu, delapan orang perompak yang baik hati ini dilarang menjaga lagi.

Setelah itu hari-hari terasa berat. Pikiran sudah tak karuan. Bahkan dalam kesempatan terakhir Masbukhin menelepon istrinya di Kediri, dia meminta keluarga mengikhlaskan jika dirinya meninggal.

“Saya cuma bisa pesan, tolong jaga anak-anak. Rawat mereka dengan baik. Kalau ada asuransi gunakan untuk menyekolahkan Maya dan Tio,” ucap Masbukhin saat itu.

Sempat juga terpikir untuk melawan perompak dengan senjata api atau meracuni. Tapi nyawa menjadi pertimbangan karena perompak berpencar.

”Pernah saya coba dengan memberi 12 biji obat sakit kepala ke dalam minuman mereka tapi tidak mempan,” jelas Masbukhin.

Dampak dari kelonggaran bisa menghubungi pihak luar, pimpinan perompak tahu jika mereka jadi sorotan media. Perompak menaikkan nilai tebusan pada 27 April malam.

“Bagi kami ini adalah hari yang kritis kritis. Mereka minta uang jadi delapan sampai sembilan juta dollar Amerika. Kalau gagal, nyawa kami taruhannya. Semua kumpul di anjungan termasuk tiga pimpinan perompak,“ beber Masbukhin.

”Itupun tiga pimpinan perompak ini bertengkar dulu. Tapi saya tetap bersikukuh nilai tebusan tidak bisa diubah karena sudah tanda tangan. Akhirnya mereka berunding lagi,” lanjut Masbukhin.

Keesokan harinya pimpinan perompak bernama Saleh menemui Masbukhin dengan kondisi wajah babak belur. Rupanya dia dihajar oleh temannya sendiri dalam urusan nilai tebusan. Ternyata nilai tebusan tetap USD 3 juta.

Bebas

Tiga hari, 30 April kemudian uang tebusan diantar menggunakan pesawat terbang. Tiga koper besar berisi lembaran dollar dijatuhkan ke laut dan mereka mengambil satu persatu dengan menggunakan speed boad.

Sedangkan pasukan gabungan TNI AL dan TNI AD sudah mengawasi dari kejauhan.

Begitu berada di atas kapal, Masbukhin kebagian menghitung uang. Perompak berjumlah delapan orang ikut mengawasi dengan senjata siap menyalak. Jumlah uang sudah sesuai dengan pecahan USD 100.

”Setelah itu saya dan teman-teman lain keluar ruangan. Mereka ribut membagi uang. Jatah enam jam untuk perompak pergi dari MV Sinar Kudus molor jadi 12 jam,” ucap Masbukhin.

Akhirnya perompak mau meninggalkan kapal. Tapi mereka meminta di antar ke daerah masing-masing. Kapal pun berubah seperti angkot. Yang terakhir turun adalah Saleh yang turun di daerah Eyl. Ternyata mereka takut uang tebusan itu dirampok oleh kelompok lain. Sedangkan TNI sudah siap naik ke kapal.

Begitu Saleh turun dan tak ada perompak lagi di kapal, TNI langsung mengamankan kapal. Namun kelompok lain yang tak puas dengan kesepakatan itu berusaha membajak. Sebelum ketiban apes lagi, timah panas pun dimuntahkan dari senjata TNI dan empat perompak tewas.

Akhirnya semua awak Kapal MV Sinar Kudus selamat dan kapal menuju ke Salala, Oman untuk sandar pada 4 Mei. Masbukhin dan 19 rekan lainnya langsung mendapatkan perawatan dokter.

”Saya tidak menyangka dapat kejutan pesta ulang tahun di Oman. Senang dan haru. Hadiah terindah selama hidup saya adalah bisa tetap hidup,” kata pria kelahiran Jombang 4 Mei 1973 ini.

Setelah dua hari di Oman, 20 kru Kapal MV Sinar Kudus terbang ke Jakarta pada 6 Mei. Di Jakarta mereka bertemu dengan keluarga masing-masing di Hotel Sheraton. Baru keesokan harinya (7/5) kru yang berasal dari luar Jakarta diterbangkan ke kota asal masing-masing.

”Jangankan di Jakarta, di Oman saja saya sudah senang sekali. Akhirnya bisa menginjakkan kaki di darat lagi,” ucap Masbukhin.

Masbukhin tiba di Kediri Minggu (8/5) malam. Warga menyambut dirinya. Ternyata selama menjadi sandera perompak, warga di lingkungan tempat tinggal Masbukhin mengadakan doa bersama.

Tentang pekerjaan setelah kejadian ini, Masbukhin ingin tetap menjadi pelaut. ”Ini sudah rezeki saya,” ungkapnya.

”Cukup saya yang jadi pelaut. Kalau anak-anak nggak perlu seperti saya. Mereka harus jadi dokter karena profesi itu adalah cita-cita saya sejak dulu. Pelaut adalah pelarian saya, ungkap Masbukhin. (gun)

Akrab dengan Komandan Perompak

Betapa senangnya hati Hari Suhaeri (30), ketika masa kontraknya di PT Samudera Indonesia diperpanjang. Setelah sukses mengantarkan feronikel seberat 8100 ton ke Eropa, Desember tahun lalu, Hari melanjutkan pelayarannya ke Belanda dengan membawa barang serupa seberat 8300 ton.

Pengalaman Hari berlayar ke luar negeri dengan waktu yang cukup lama ini menjadi pengalaman pertama dalam karirnya. Sebelumnya Hari hanya berlayar di perairan Indonesia sejak tahun 2004 lalu.

Namun pengalaman kedua kalinya ini ternyata menjadi cerita tersendiri dan wujud dari resiko menjadi seorang pelaut. Ya, Hari dan 19 ABK di MV Sinar Kudus menjadi sandera perompak Somalia di Perairan Laut Arab. .

”Diluar dugaan, saya menjadi sandera bajak laut Somalia. Wah seperti cerita di film-film saja,” kenang Hari ketika ditemui Nyata di rumahnya di Jalan Cimandiri, Sukmajaya, Depok, Kamis (12/5) lalu.

Beruntung, Hari dan ABK lainnya diperlakukan sangat baik oleh perompak Somalia. Meski kebebasannya haruslah ditebus dengan sejumlah uang senilai 3 juta US Dolar. ”Alhamdulillah mereka (perompak) memperlakukan kami dengan baik meski ujung-ujungnya minta tebusan uang,” ucapnya ber-syukur.

Meski mengalami kejadian yang menakutkan dan membuat khawatir seluruh keluarga, Hari akan tetap melanjutkan profesinya sebagai pelaut. ”Semua pekerjaan saya kira punya risiko yang harus dihadapi. Inilah risiko seorang pelaut,” ungkapnya.

Sepulangnya dari Eropa awal Desember 2010, Hari kembali menerima tawaran untuk melanjutkan perjalanan ke Belanda. Sebelum berangkat, Hari meluangkan selama 4 jam untuk pulang ke rumah.

Sambil menyiapkan pakaian ganti, Hari meluangkan waktu bermain bersama putra tunggalnya, Banu Harvie (2,5). ”Karena perjalanan kedua ini memakan waktu 6 bulan, saya main-main dulu sama Banu,” tuturnya.

Rabu, tanggal 1 Desember 2010, sekitar pukul 16.00 WIB, Hari berangkat menuju Pelabuhan Pomala, Sulawesi Tenggara tempat Kapal KMV Sinar Kudus berlabuh. Esoknya baru berlayar ke Belanda.

Sebagai Mualim 3 yang bertanggungjawab atas pemeliharaan dan kelengkapan life boats, liferafts, lifebuoys serta lifejackets, Hari menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh. ”Semua ABK punya tanggungjawabnya masing-masing dan harus diperhatikan,” ungkapnya.

Selama perjalanan panjangnya itu, Hari tak lupa menghubungi keluarganya setiap mendapat signal telepon. ”Setiap berhenti di negara seperti Cina, Korea dan Jepang, saya selalu menghubungi keluarga. Istri saya minta dibelikan oleh-oleh setiap kapal bersandar,” kenangnya.

Setelah empat bulan berlayar di laut lepas, Kapal MV Sinar Kudus dibajak kawanan perompak. ”Sebenarnya, para perompak itu hanya mengincar kapal non muslim. Tapi karena tak dapat mangsa lain, maka kami tetap jadi korban,” terang Hari.

Sebelumnya, sempar terjadi tawar menawar antara Slamet Juhari, Kapten Kapal MV Sinar Kudus dengan Saleh, komandan para bajak laut. ”Kapten meminta jangan disandera karena sesama muslim,” terang Hari.

Komandan bajak laut mengabulkan tapi dengan satu syarat. Syaratnya mereka akan tinggal di Kapal MV Sinar Kudus sampai dapat mangsa kapal lainnya.

Karena tak punyan pilihan lain Hari dan rekan-rekannya hanya bisa pasrah. Meeka berharap para perompak itu segera mendapat mangsa. Namun harapan itu hanyalah sia-sia.

”Kapal kami sudah dideteksi oleh kapal lain membawa perompak. Jadi mereka tak kunjung mendapat mangsa. Perasaan was-was dan takut menyelimuti kita semua. Kami saling menguatkan satu sama lain,” papar Hari.

Sempat sebuah kapal tangker menjadi sasaran perompak. Namun setelah didekati, kapal tangker itu dikawal tentara. Karena tak kunjung mendapat pengganti sandera akhirnya Kapal MV Sinar Kudus menjadi sasaran. ”Sempat ada perdebatan di antara perompak. Ada yang setuju melepas kami, ada juga yang tak setuju. Karena yang tak setuju jumlahnya lebih banyak, akhirnya kami tak dilepas,” kata Hari.

Selama menjadi sandera, komandan perompak berjanji tidak akan melukai bahkan mencuri barang dari ABK. Hari dan rekan-rekannya pun hanya pasrah ketika Kapal MV Sinar Kudus dibawa ke Perairan Somalia untuk berlabuh. ”Saya sudah merasa akan lama dibebaskan,” ucapnya saat itu.

Saat berlabuh itulah, Hari melihat banyaknya kapal yang disandera perompak Somalia. Bahkan, ada korban yang meninggal karena sakit dan sudah enam bulan membusuk di dalam kapal.

Seteleh berlabuh, semua blok kapal dijaga ketat oleh perompak. ”Semua kegiatan kami diawasi siang malam,” ungkapnya.

Entah mengapa, komandan perompak tertarik berkomunikasi dengan Hari. Menggunakan bahasa Inggris, Saleh mengaku sebagai alumni laskar jihat di Afganistan. ”Ketakutan saya saat itu sedikit berkurang karena komandannya ramah,” kenangnya.

Saleh pun sempat mintaan maag kepada Hari. Karena perbuatannya menyandera sesama muslim adalah kesalahan. ”Dia merasa menganiaya saudaranya sendiri. I’m Sorry Hari,” ucap Hari menirukan permintaan maaf Saleh.

Hari mencoba memanfaatkan perasaan bersalah Saleh dengan membujuknya agar melepaskan dia dan rekan-rekannya. Namun usahanya sia-sia. ”Berkali-kali saya membujuknya, tapi tak berhasil. Karena mereka harus mendapatkan sesuatu, tebusan uang,” kata Hari.

Tapi, untuk menebus kesalahannya, Saeh hanya meminta tebusan 2,6 juta US Dolar dari tebusan yang bisa mencapai 9 juta US Dolar. ”Kapten Saleh membuat dan menandatangani agreement dengan jumlah yang paling rendah dibandingkan dengan kapal sandera lainnya,” terang Hari.

Pengalaman

Sejak akrab dengan Saleh, bapak satu anak itu merasa aman dari para perompak lainnya. Oleh-oleh Hari untuk istri dan anaknya yang disimpang di kabin tak diambil para perompak.

Tak hanya Hari, para ABK Kapal MV Sinar Kudus juga mendapat perlakuan istimewa dibanding korban sandera kapal asing lainnya. ”Kami diperbolehkan masak sendiri. Mereka juga membawa makanan sendiri dan kita semua makan bareng,” ujarnya.
Perompak pun kerap membawa rokok untuk ABK dari hasil mencuri di kapal lain. ”Padahal kita punya stok banyak yang disimpan di provision store. Tapi mereka tak tahu,” tuturnya.

Sambil menunggu keputusan dari perusahaan untuk membayar uang tebusan, Hari mengaku menjalin keakraban dengan Saleh. Hari saling berbincang mengenai kondisi negara mereka masing-masing.

”Dia curhat tentang negaranya yang tak memiliki pemerintahan, pekerjaan dan banyak kekurangannya. Makanya menjadi bajak laut sebagai profesi pekerjaan,” jelas Hari.

Bahkan, Hari diperbolehkan pinjam ponsel milik pimpinan kawanan perompak itu untuk menghubungi keluarganya. ”Saya lega bisa memberi kabar kepada istri, alhamdulillah,” senang Hari.

Kebersamaan antara perompak dan ABK pun terjadi ketika jam shalat tiba. Mereka sama-sama shalat berjamaah. ”Kami shalat berjamaah lima waktu,” kenangnya.

Intimidasi

Ternyata tidak selamanya Saleh memegang komando di Kapal MV Sinar Kudus. Setelah satu minggu, Saleh pulang menemui keluarganya. Dia diganti Farah dan Salul. ”Dua penggantinya ini yang sangat mengintimidasi kami,” kesalnya.

Jatah makan dan air mulai diatur. Bahkan pencurian bahan makanan pun kerap terjadi. ”Kami juga sering dibentak dan ditodong senjata,” tambahnya lagi.

Hari dan rekan-rekannya sempat merencanakan akan berontak. Tapi diurungkan karena situasi dan kondisinya tak memungkinkan. Intimidasi pun berlanjut Farah dan Salul meminta uang tebusan diluar perjanjian yang sudah ditetapkan Saleh. ”Mereka meminta 9 juta US Dolar dan membatalkan perjanjian yang dibuat Saleh,” tukas Hari.

Perdebatan pun terjadi dan ujung-ujungnya mereka diancam akan dibunuh satu persatu. Pertengkaran antara perompak pun terjadi. Namun berkat kegigihan Hari dan 19 ABK lainnya akhirnya ditetapkan menjadi 3 juta US Dolar sebagai uang tebusan. ”Alhamdulillah akhirnya mereka mau menerima uang tersebut dan membebaskan kami 1 Mei lalu,” kisahnya.

Selama disandera, Hari bersama 19 ABK lainnya memutuskan untuk membatasi jumlah makanan. Ini disesuaikan dengan kondisi penyaderaan yang belum diketahui waktu pembebasan

Pembagiannya pun merata. Hari mendapat jatah makan 2 hari sekali dan mendapat air bersih ketika waktu shalat. ”Jadi kalau gak shalat ya gak dapat air bersih. Lumayan kan buat cuci muka,” ungkapnya.

Sempat para ABK ditawari masakan Somalia berupa daging kambing yang hanya direbus tanpa diberi bumbu. Melihat cara makan perompak saja membuat Hari tak berselera lagi. ”Iiiih gak selera, ditawarin aja ogah,” seru Hari yang mengaku berat badannya tak ada perubahan.

Untuk urusan ganti pakaian, Hari teringat bila satu koper berisi pakaiannya habis diambil para perompak. Hanya tertinggal celana pendek yang dipakai dan warepak. ”Baju saya hanya dua saja, warepak dan celana pendek. Saya ganti baju hanya dua kali saja,” tuturnya.(uwie) (Sumber : Nyata/Gun/Uwie/Ardava.com)

Share this article :

Historia


Teknologi


Latihan


Arsip



banner ads banner ads

Translate


English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified


Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts


Pendidikan Pasukan Katak TNI-AL. "KOPASKA - Disegani, Dikagumi, Dihormati - Pasukan Elit Indonesia"[By CNN Indonesia]

Flag Counter
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Arsip Ardava - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger