Home » , , , , , , » Saat Soviet Pinjam Bomber ke Amerika

Saat Soviet Pinjam Bomber ke Amerika

Written By http://arsipardava.blogspot.com/ on Selasa, 10 Mei 2016

Saat Soviet Pinjam Bomber ke Amerika
Pesawat Bomber Amerika Douglas A-20G_Havoc

Saat Perang Dunia II berlangsung, Mikhail Chernyshov berulang kali mendatangkan pesawat-pesawat pengebom program pinjaman Lend-Lease dari AS ke Uni Soviet.

Dalam salah satu penerbangannya untuk mendatangkan pesawat tersebut ke Uni Soviet, hampir satu skuadron kehilangan nyawa akibat kesalahan pengaturan peralatan pada pesawat. Akibatnya, ia pun menjadi satu-satunya tenaga ahli pilot pesawat pengebom AS di Uni Soviet.

Saat ini Chernyshov berusia 87 tahun. Dia secara sukarela mengajukan diri untuk menjadi tentara pada usia 16 tahun. Chernyshov telah menyelesaikan dua sekolah penerbangan. Ia lulus dari program penerbangan pesawat pengebom malam hari (mereka hanya terbang pada malam hari) untuk mengebom garis belakang pertahanan musuh. Kedua, ia lulus dari resimen pesawat pengebom ketiga di kota Novosibirsk, yang mendatangkan pesawat-pesawat pengebom AS ke Uni Soviet.

“Pesawat-pesawat tersebut tidaklah lengkap” terang Mikhail Grigoryevich, panggilan formal Chernyshov. “Para pilot sering tersesat. Saat itu belum ada pemandu lewat radio, sementara waktu yang ditempuh dari AS sekitar 13-14 jam. Saya menjadi yang paling muda dari pilot-pilot yang dipilih. Kami bertugas di bagian penerbangan jarak jauh. Oleh karena itu, semua komandan senior di bagian tersebut berasal dari penerbangan sipil. Penerbang tempur tidak dilatih untuk penerbangan seperti itu,” katanya menjelaskan.

Chernyshov bercerita bahwa saat itu para pilot terbang dari Amerika dengan persiapan seadanya. “Di AS, lapangan terbang berjarak sekitar 270 kilometer dari pesisir pantai. Dalam keadaan cuaca buruk, pendaratan dilakukan di kota Khabarovsk, sedangkan bila cuaca kondusif kami membawanya sampai Krasnoyarsk, dan itu berarti penerbangan tanpa henti yang berjarak hampir lima ribu kilometer,” terang Chernyshov. Ia menambahkan, pesawat bisa terbang sejauh itu berkat adanya tangki cadangan yang menempel di bawah sayap pesawat.

Dari Khabarovsk dan Krasnoyarsk, pesawat tersebut diterbangkan oleh detasemen lain menuju zona garis depan peperangan. Mikhail Grigoryevich mengenang, “Di dalam pesawat-pesawat kami terdapat cokelat dan alkohol, serta minuman cognac kualitas paling tinggi—semua hal yang dibutuhkan jika pesawat mengalami kecelakaan.”

Ternyata, itulah yang terjadi. Chernyshov mengalami kecelakaan pesawat. Komisi Penyelidikan Militer menyatakan setelahnya bahwa pengukuran ketinggian pesawat tidak akurat. Informasi mengenai ketinggian gunung yang salah dimasukkan ke dalam peralatan-peralatan di pesawat AS menyebabkan hampir seluruh skuadron penerbang Soviet kehilangan nyawanya. Kesalahan teknis sebesar 300 meter menjadi mimpi buruk bagi seluruh awak penerbangan tersebut.

Namun, takdir berkata lain pada Chernyshov. Ia beruntung karena hanya menyerempet puncak gunung dengan sisi kanan pesawatnya dan pesawat tersebut pun pecah menjadi kepingan. Dari seluruh anggota skuadron dalam penerbangan tersebut, hanya Chernyshov saja yang masih hidup. Dia terbaring tak sadarkan diri sampai akhirnya berhasil ditemukan oleh tim SAR.

Sang Pengganti Tak Kunjung Datang

Setelah perang berakhir, Mikhail Grigoryevich melanjutkan tugas militernya di wilayah perbatasan. Wilayah penugasannya dimulai dari Chukotka dan berakhir di daerah Kurilskaya Gryada. Di seluruh perbatasan timur Uni Soviet terdapat banyak lapangan terbang tersembunyi yang bisa dibongkar pasang.

Dengan demikian, hal ini memungkinkan para penerbang untuk tidak berdiam lama di satu tempat. Jalur lepas landas lapangan terbang tersebut terbuat dari lempengan besi. Ketika para penerbang membongkar landasan terbang ini dan memasangnya di tempat yang baru, lapangan lama yang ditinggalkan akan ditutupi dengan semak dan pepohonan.

“Bagi kami, perang di timur tidak akan pernah berakhir sampai kapan pun! Namun, kami tak berhak menghancurkan pesawat-pesawat tempur dan kapal AS. Tugas kami hanya untuk menakut-nakuti saja,” cerita Chernyshov. “Pasca-Perang Dunia II, saya menjalani delapan tahun masa pengabdian militer,” kata Mikhail Grigoryevich sambil mengingat.

“Hanya di Kamchatka saja saya menjalani tugas selama lebih dari enam tahun. Kami tidur di atas lempengan-lempengan lantai besi lapangan terbang dan dua buah penutup pesawat. Satu digunakan untuk melapisi lantai, yang kedua untuk dipakai sebagai selimut. Kami menjalani itu selama delapan tahun. Selain kacang hitam Tiongkok dan daging babi kaleng AS, tidak ada lagi yang bisa kami makan. Dan juga bawang-bawang liar, itu pun untuk mencegah sariawan.”

Chernyshov mengatakan, dia harus menjalani penugasan militer pascaperang dalam waktu yang lama karena tidak ada yang datang menggantikannya. “Kami diajari terbang di Amerika. Kami adalah pilot-pilot terlatih yang terakhir. Saya adalah salah satu dari penerbang yang tersisa,” ujar Chernyshov.

Chernyshov terakhir kali terbang pada tahun 1952. Para penerbang jarak jauh kembali menjadi pilot penerbangan sipil. Karena tak lolos tes buta warna, ia pun terpaksa berpisah dengan langit. Setelah itu, Chernyshov masuk ke perguruan tinggi dan menjalankan pekerjaan nonmiliter. Saat ini di masa pensiunnya, Chernyshov berkonsentrasi mengendarai kendaraan lintas rawa di tanah peristirahatan miliknya, yang akan mengarungi medan-medan berawa di sekitarnya.

Sumber : Jejak Tapak
Share this article :

Historia


Teknologi


Latihan


Arsip



Translate


English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified


Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts


Pendidikan Pasukan Katak TNI-AL. "KOPASKA - Disegani, Dikagumi, Dihormati - Pasukan Elit Indonesia"[By CNN Indonesia]

Flag Counter
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Arsip Ardava - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger